Tips untuk gitaris

Teori dasar

Tips praktis

Mitos dan fakta

Teori dasar


Tips praktis

1. Meningkatkan kecepatan.

Cuplikan dari Fantasia para un Gentilhombre oleh Joaquin Rodrigo (gitaris: John Paul)

Prinsip speed picking mirip dengan speed plucking, atau picado pada kasus cuplikan di atas. Hampir semua orang pasti mampu membunyikan open string 2x secara cepat. Susahnya adalah (1) stamina saat harus main 4x atau 400x, (2) koordinasi melintasi (walking) atau bahkan melompati senar (string skipping), dan (3) koordinasi dengan tangan pada fretboard.

Solusi:

  1. Tingkatkan speed singkat (burst) dan stamina.

– Burst: Latih open string dengan metronome tempo 60, 1 ketuk=1/4, tiap ketuk 2 not, ritmenya not pertama 1/64 lalu not kedua sepanjang sisa ketukan. Variasi ritme: dibalik jadi not pertama sepanjang ketukan minus not kedua senilai 1/64 dan langsung disusul not ketukan berikutnya. Alnernate ˅ ˄, atau im, ia, ganti2an mulai dengan upstroke atau downstroke (i atau m) asal jangan mengulang stroke searah (˅ ˅ , ii, mm). Tidak perlu tambah tempo. Ada pula variasi2 ritme lain yang saya latih dan saya ajarkan pada siswa saya.

– Stamina: latihlah triplet agar up dan down stroke, atau i dan m agak berimbang kuatnya, meskipun gravitasi membuat downstroke lebih kuat secara alami. 2 ketuk, 4 ketuk, 20 ketuk dst. Mulai pada tempo yang tidak menuntut kontrol misal 60, aksen setiap ketuk saat masih lamban. Ingat bahwa speed menuntut pembentukan reflek, jadi jangan menambah tempo sampai apa yang dimainkan menjadi reflek yang tidak butuh kontrol. Latih juga quadruplet karena itu yang paling umum. Bentuklah reflek menggunakan staccato/planting. Jadi, setelah ˅ (i)pick (jari) langsung menempel di senar bersiap untuk ˄ (m). Tingkatkan tempo secara gradual, jangan memaksa.

Satu per satu senar beres? Lanjut ke walking. Mulai saja dengan satu not per senar. Misal ˅ (i) senar 6 ˄ (m) senar 5 ˅ (i) senar 4 dst sampai senar 1 dan balik ke senar 6. Lalu gantian mulai dengan ˄ (m). Lalu gantian mulainya dari senar 1. Lalu tambah jadi 2 not ˅ ˄ (im) per senar dan ulang prosesnya. Tambah 3, 4, 6, dan 8 not. Tempo 60 dan bertambah seiring terbentuknya reflek.

Pada saat akhirnya diterapkan di scale atau melodi yang hendak dikuasai, tangan picking atau pemetik (biasanya kanan) akan sudah relatif terbentuk sehingga tinggal berpikir tangan penekan fret (biasanya kiri).

2. Interpretasi Lagrima, oleh Francisco Tárrega.

Lágrima itu tunggal, berbeda dengan Lágrimas. Berarti, terjemahan yang tepat bukanlah “air mata”, melainkan “setetes” air mata. Sepele? Bisa jadi. Tapi bisa juga jadi (salah satu) ide interpretasi. Nada atau rangkaian nada manakah yang kira-kira mewakili luapan emosi terpendam? Terpendam karena setetes. Kalau tersedu-sedu bukan terpendam lagi namanya. 

Mungkin E tinggi pada birama 5 (saat pengulangan) bisa dimainkan dengan segenap persenjataan ekspresi (e.g tenuto, vibrato, tasto atau dolcissimo DAN pianissimo) dengan konsekuensi sedikit accelerando saat turun melalui D, C# dan B dan justru ditambah sedikit “kejutan”/”drama” crescendo menuju C# tengah (e.g tenuto, vibrato, mf) di birama 6.

Leo Brouwer pernah mengatakan pada saya bahwa “interpretasi musik klasik itu gampang. Kalau melodi naik, dinamika naik, dan sebaliknya. Mengikuti ini, kamu akan aman 90%.” Dengan mengikuti ini pula, kita jadi bisa secara efektif mebuat 10% momen yang lainnya menjadi lebih istimewa. Momen yang cukup istimewa menurut saya adalah C# di birama 6. Kenapa? Satu, karena melodi dan iringan disini “bersatu”. Kedua, karena melodi E (Lagrima, setetes air mata) yang merayap (D, C#, B [di wajah]) akhirnya turun (jatuh) hampir satu oktaf ke C# (ke tanah)…. .

3. Apakah arti dari tanda ekspresi “con grazia”? Bagaimana menginterpretasinya?

Versi penjelasan gampangnya adalah “dengan anggun”. Versi agak rumit sedikitnya? Makna kata ‘grazia‘ dalam bahasa Italia cukup luas. Sebagai contoh referensi, artikel tentang “grazia” dalam ensiklopedi Treccani panjangnya sekitar 1800 kata, dengan artikel terpisah pula untuk menjelaskan ‘grazioso‘, yang mirip tapi tak sama. Ringkasan artikelnya:

Qualità naturale di tutto ciò che, per una sua intima bellezza, delicatezza, spontaneità, finezza, leggiadria, o per l’armonica fusione di tutte queste doti, impressiona gradevolmente i sensi e lo spirito.”

Kata ‘grace‘ dalam bahasa Inggris hampirlah memadai sebagai terjemahan ‘grazia‘ karena sama2 memiliki makna yang luas dan meliputi beberapa hal serupa. Dalam bahasa Indonesia, ‘(with) grace’ dapat berarti ‘(dengan) anggun’, ‘(dengan) gemulai’, ‘rahmat’, ‘kasih’, ‘karunia’ dan beberapa kata lain. Maka masuk akal jika interpretasi musikal dari tanda ekspresi “con grazia” bisa cukup variatif tergantung konteksnya dan aspek “grazia” yang ingin ditonjolkan. Lalu bagaimana aplikasinya saat bermain gitar?

Dalam konteks Vals Venezolano 2 karya Antonio Lauro misalnya, mungkin fokusnya bisa pada “leggiadria” (loveliness) dan “delicatezza” (delicateness). Kuncinya adalah phrasing pada kamar 2 (lihat gambar). Jika memainkan rangkaian harmoniknya sebagai penutup dari bagian sebelumnya, maka logis jika ada decresendo (p ke pp, atau mp ke p) dan bahkan ritardando. Maka kita bisa memainkan not2 pertama dari birama berikutnya dengan sentuhan yang sangat lembut (“delicato”) untuk menghasilkan dinamika yang nyambung lembutnya dengan harmonik terakhir dari birama sebelumnya (pp atau p), dengan tone yang se”lovely” (indah) mungkin (tidak perlu sul tasto, tapi yang pasti tidak sul ponticello) terutama pada suara atas, dan kembali ke tempo secara agak gradual (misal pada birama berikutnya setelah “con grazia”). Sebaliknya, jika memainkan rangkaian harmonik di kamar 2 sebagai awal dari bagian 2, maka kita bisa saja fokus pada aspek “spontaneita” (spontan, alami, tidak dibuat-buat) yaitu bernapas sedikit pada akor E minor di awal kamar 2, dan justru langsung sudah in tempo sejak rangkaian harmonik sehingga bagian “con grazia” menonjolkan kesan spontan dengen efek “a tempo subito” dan dengan keindahan yang muncul dari kontras antara kualitas bunyi harmonik pada senar terbuka dengan not yang kemudian ditekan pada fretboard. Cuma ide saja. Semoga bermanfaat.


Mitos dan fakta

  1. Musik klasik sudah lewat masanya.

Apa yang disebut sebagai era atau zaman klasik (classical period) memang sudah lewat. Namun musik klasik sendiri termasuk repertoir gitar klasik terus berkembang hingga kini melalui karya-karya komposer senior yang masih hidup seperti Leo Brouwer, Angelo Gilardino, Ananda Sukarlan, David del Puerto dan juga komposer generasi muda seperti Nejc Kuhar, Giacomo Susani serta masih banyak lainnya.

2. Gitar belum populer di jaman renaissance, barok, dan klasik.

Banyaknya komposer renaisans, barok, dan klasik yang menulis karya untuk gitar menjadi salah satu bukti populernya instrumen gitar selama masa-masa tersebut. Komposer Renaisans yang menulis karya untuk gitar renaisans antara lain adalah Alonso Mudarra (c. 1510-1580), Miguel de Fuenllana (? – pasca 1568), Juan Vasquez (c. 1510 -c. 1560), Alberto de Ripa (ca. 1500 -1551), Simon Gorlier (fl. 1550-84) dan masih banyak lagi. Diantara tahun 1551 – 1555 di Perancis saja, ada setidaknya sembilan buku tablature oleh Guillame Morlaye, Robert Ballard, Adrien le Roy dan Simon Gorlier yang diterbitkan. Jumlah ini terkesan kecil dari sudut padang modern. Namun dalam konteks renaisans, jumlah itu tergolong luar biasa.

Di abad 17 dan 18 ada Francesco Corbetta (c. 1615 – 1681), Robert de Visée(c. 1655 – 1732/1733), Giovanni Paolo Foscarini (fl. 1600 – 1647),  Gaspar Sanz (1640-1710), dan masih banyak lagi. Kemudian dari paruh kedua abad ke-18 hingga awal abad ke-19 ada Giachomo Merchi (Frederico Moretti (1769 – 1839), Francesco Alberti (1750?-18..), dan banyak lainnya.

Selain itu ada berbagai bukti iconografis misalnya dalam bentuk lukisan  dan ukiran dengan tema bermain gitar.

Representation of Giovanni Achillini (1510-1527), Marcantonio Raimondi (1470/1482 – 1527/1534), The British Museum

The Guitar Player (1672), Johannes Vermeer (1632-1675), English Heritage

Woman Playing a Guitar (c. 1618), Simon Vouet, 1590–1649), Met Museum

3. Main gitar klasik pasti pasti main fingerstyle, tapi main fingerstyle belum tentu main gitar klasik.

Bisa jadi. Tapi kemungkinan besar justru sebaliknya. Atau mungkin kedua hal tersebut tidak terlalu relevan satu sama lain. Tergantung cara menyikapi beberapa fakta dibawah.

Fakta:

1. Diantara kamus paling terpercaya seperti Collins, Webster, Cambridge dan Oxford, istilah ‘fingerstyle’ hanya terindex di Oxford. Padahal, istilah ‘fingerstyle’ sudah muncul sejak tahun 1920an di jurnal Music Trades.

Opini saya: Bisa jadi karena inkonsistensi penggunaan istilah ‘fingerstyle’. Contoh: Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa ‘fingerstyle’ itu berhubungan dengan menggabungkan berbagai suara atau fungsi (misal: iringan dan melodi) ke dalam satu gitar tunggal.  Dari sini muncul pendapat seperti “Ketika sebuah lagu di fingerstyle kan, maka melody lagu udah masuk dalam aransemen petikan fingerstyle”, atau “Lahh klo maen fingerstyle kan melodi vokalnya udah diambil alih semua ama gitar”.

Di sisi lain, ada juga yang menganggap bahwa ‘fingerstyle’ itu intinya main gitar pakai jari. Dari sini muncul pendapat seperti “typing…hammering…chop.. tapi diaplikasikan pada gitar..juga fingerstyle.”

2. Di Grove istilah ‘fingerstyle’ tidak/belum punya entri sendiri namun muncul dalam sekitar 20an artikel. Mayoritasnya terkait gitar jazz, masing2 satu tentang mandolin dan banjo, tidak satupun terkait gitar klasik secara spesifik.

Opini saya: Bisa jadi karena ‘fingerstyle’, baik dalam konteks aransemen dan komposisi maupun teknik (lihat poin (a)) hanya “istimewa” di luar ranah gitar klasik. Jika gitaris lain tiba2 main pakai jari alih2 pick, itu mungkin istimewa sampai harus ada pembedaan. Jika gitaris lain menggabungkan melody dan iringan pada satu gitar tunggal mungkin itu istimewa. Di gitar klasik semuanya juga pakai jari (lihat fakta no.4) dan mayoritas repertoirnya memang polifonis.

3. Di artikel2 Grove juga tidak ada indikasi adanya hubungan antara ‘fingerstyle’ dengan penggabungan suara atau fungsi pada gitar tunggal.

4. Oxford mendefinisikan fingerstyle sebagai “A technique for playing a guitar, banjo, etc., by plucking the strings with the fingers instead of with a plectrum.”

Opini saya: Bagian  “…etc., …” dan “…instead of…” adalah penting.  Artinya teknik memainkan berbagai instrumen dengan jari yang lazimnya menggunakan plectrum. Adalah sama sekali tidak lazim menggunakan plectrum pada gitar klasik, sehingga istilah ‘fingerstyle’ tidak relevan bagi gitar klasik. Hal inisecara logis berlaku pula bagi harpa, lute renasains dan barok serta segala instrumen terkait (theorbo, chitarrone dll.), serta vihuela.

5. Sehubungan dengan fakta no. 4, dalam artikel yang dipublikasi oleh Journal of the Lute Society of America, Paul Beier menjelaskan bagaimana pada akhir abad ke 15, terjadi peralihan permainan dari gaya abad pertengahan yang menggunakan plectrum (pick) ke “gaya baru” (new style) menggunakan jari pada lute. Semua lute sejak zaman renaisans dirancang untuk dimainkan dengan jari, tanpa plectrum. Dalam buku karya Luis Milan berjudul El Maestro (1536), beliau menggunakan istilah lengkap, Vihuela da mano untuk membedakan antara Vihuela de péñola (plectrum), dan Vihuela de arco (busur) yang merupakan instrumen serupa tapi tak sama dengan teknik permainan lazim yang berbeda-beda pula.

4. Teknik adalah sesuatu yang sudah kecil dan tidak perlu atau tidak bisa dipecah lagi.

Dalam buku yang kini dikenal sebagai Capirola Lutebook, sebuah illuminated manuscript oleh Vincenzo Capirola sekitar tahun 1517, beliau memecah teknik yang kini kita kenal sebagai trill menjadi berbagai jenis trill. Karena belum ada standarisasi modern dalam hal istilah, Capirola memang masih menyebutnya sebagai tremolo alih-alih trillo sebagaimana dilakukan oleh berbagai rekan Italia semasanya.

Dalam bukunya berjudul Ornamentation in Baroque and Post-Baroque Music with Special Emphasis on Johann Sebastian Bach, Frederick Neumann mendedikasikan lebih dari 100 halaman untuk Teknik trill yang antara lain dipecah menjadi The German Trill, J.S. Bach’s trill, The Italian trill, dan masih banyak lainnya. Itu belum menghitung puluhan halaman lainnya untuk apa yang disebut sebagai The Compound Trill, yang juga dipecah menjadi berbagai jenis.

Capirola Lutebook (c. 1517), Vincenzo Capirola (1474-?), Newberry Library

5. Sebelum era romantik musik pasti tidak lepas dari fungsi spiritual.

Canario, Folia, Fantasia, Branle, Pavane (Pavana) dan Chaccone (Ciacona) serta bahkan Opera merupakan beberapa di antara sekian banyak bentuk musik yang lahir jauh sebelum era Romantik di luar konteks dan fungsi spiritual. Canario misalnya, merupakan sebuah tarian renaisans yang terinspiransi oleh tarian dan lagu rakyat kepulauan Canary. Chaccone juga berawal sebagai tarian-lagu di era renaisans yang aslinya justru memiliki fungsi yang mungkin bisa dikatakan seduktif. Chaccone dan Pavane, sama-sama mengalami evolusi dari yang aslinya berkarakter tempo cepat atau sedang, menjadi bertempo lamban seperti Chaccone karya J.S. Bach di era barok. Musik tertua yang diketahui untuk Pavane, dicetak oleh Ottaviano Petrucci pada tahun 1508 dalam Intabolatura de lauto libro quarto oleh Joan Ambrosio Dalza (lihat gambar). Didalamnya terdapat dua jenis Pavane yaitu Pavana alla Ferrarese dan Pavana alla Venetiana. Menariknya, Pavana justru kemungkinan besar berasal dari wilayah Padova. (Padovana).


Follow My Blog

Get new content delivered directly to your inbox.